Tertawa. Menangis. Bangkit. Jatuh. Bersyukur. Menyesal. Menari. Bernyanyi. Berhitung. Berkata. Terjaga. Tertidur. Melihat. Mendengar. Mencium. Bicara. Merasa. Setiap detik. Setetes darah. Setetes keringat. Setetes ludah. Semua hanyalah media untuk kita belajar. Menjadi manusia. Menjadi ciptaan yang sempurna. Menjadi mahluk yang tidak merugi.
Sejak lahir kita sudah mulai belajar. Dari nol. Sejak lahir kita terus mengalami semua. Tidak pernah menyerah. Tidak ada siapapun yang mengajari kita duduk. Membalik badan. Merangkak. Berjalan. Tidak ada siapapun yang mengajari kita do re mi fa so la si do. Teriak. Mengucap. Mendengar. Semua kita dapatkan dari usaha kita sendiri. Aneh? Tidak. Kita datang dengan nikmat yang tak terhitung. Dengan bakat yang tak terbayang. Allah telah memberi segala modal yang kita perlukan. Gw rasa kita ngga butuh yang lainnya lagi.
Entah sejak kapan kita mulai merasa lelah. Jenuh. Malas. Bukan. Kita merasa takut. Takut akan ketidak nyamanan. Takut akan usaha. Takut akan sakit. Sejak sd gw mulai mengenal takut akan kebingungan. Sejak smp gw mulai mengenal takut akan sakit hati oleh lawan jenis. Sejak sma gw mulai mengenal takut tak dianggap.
Barusan gw teringat sebuah dalil yang menyatakan Allah lebih dekat dari urat nadi kita, nyawa kita (QS. 50 : 16). Jika Allah yang memberikan kita semua modal yang kita perlu ada di dekat kita, lebih dekat dari diri kita sendiri, mengapa kita harus takut? Lalu gw teringat sebuah dalil yang mengatakan jika kita mendekati Allah, maka Allah lebih mendekati. Jika kita menjauhi Allah, maka Allah akan lebih jauh. Oh. Gw ngerti. Kenapa gw selalu takut. Kenapa gw ga inget sama keberanian saat gw bayi. Kenapa gw berenti belajar. Bukan modal yang gw bawa sudah habis. Bukan Allah melepas gw gitu aja. Tapi langkah gw yang menjauh dari Allah. Langkah gw yang merusak diri sendiri yang membuat modal gw banyak terbuang percuma. Investasi modal di tempat yang salah yang membuat gw kehilangan banyak modal. Memboroskan modal tanpa manfaat yang membuat gw kehilangan banyak modal. Lalu gw trauma. Lalu gw takut. Lalu gw lupa kalau sumber modal itu ada di dekat gw lebih dekat dari gw sendiri. Gw lupa kalau sumber modal itu ngga akan pernah kehabisan modal dan ngga pernah pelit.
Barusan juga gw sadar kalo segala yang terjadi dalam hidup gw akhir-akhir adalah harta karun. Bokap gw yang banting tulang mengingatkan gw kalo gw punya tanggung jawab dan janji sama dia. Nyokap gw yang menangis saat gw jatuh mengingatkan gw kalo gw punya tempat bersandar yang hangat. Ade gw yang kurang ajar sama gw mengingatkan gw kalo gw belom memberi contoh semestinya sama dia. Temen2 gw yang sering bicara di belakang orang mengingatkan gw untuk menjaga mulut. Temen2 gw yang bisa saling memaafkan mengajarkan gw kalo yang diperlukan dari masa lalu adalah hikmah dan harus dilupakan adalah sakit hati. Temen2 gw, BA, AF, GNDB, yang ada pas gw jatuh mengajarkan gw betapa pentingnya saling menolong. Temen2 gw, HM, HI, yang dulu sangat hangat tapi sekarang menjadi dingin pada gw mengingatkan gw untuk selalu berhati2 bertindak dan selalu introspeksi. Temen gw PPY, yang selalu menghibur gw, mengajarkan gw arti ketulusan. VYG yang bolak balik datang pergi mengjarkan gw kalo setiap orang berhak melakukan apapun dalam hidupnya dan membuat pilihan apapun. Namun jangan ganggu hak orang lain. Dan jangan pernah mengharapkan balasan atau pamrih dari apa yang lo lakukan. Dari sini gw juga belajar kalau gw bisa bangkit, bukan berarti gw ngga akan terpuruk lagi. Dan itu juga buka berarti gw ngga bisa bangkit lagi. Kalau gw bisa bangkit, bukan berarti gw bisa berjalan kembali menjauhi Allah.
Sering kali, gw terlalu panas, emosi, takut, atau terburu2 melihat suasana. Sehingga hikmah2 yang dapat gw serap menguap tanpa gw sadari. Yang tersisa hanyalah prespektif dan prasangka buruk. Kenyataannya, gw terlalu jauh dari Allah sehingga ketika sebuah investasi gw gagal, gw akan berhenti menjadi pelaku pasar padahal tujuan gw bahkan belum tercapai sedikitpun.
Dari semua ini gw menyadari bahwa logika akan membawa kita pada pelajaran2 yang sangat berharga. Namun hati yang dapat menjaga logika itu tetap jernih dan selektif
Ini Cuma pengalaman gw. Ngga ada kesimpulan dan penutup dari tulisan ini. Karna itu semua ada dikepala dan hati kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar