Senin, 14 Juni 2010

Merengkuh biru dalam sadar.

Bukan haru melagu,

Tapi sendu seiring nafas menderu.

Apa yang terjadi, terjadilah.

Bukan mudah mengatakan. Bukan juga konsisten dalam implementasi.

Mereka bilang penyesalan itu percuma.

Namun nila telah mendesir dalam nadi, maka menangis pun manusiawi.

Bukan lemah, hanya lelah, untuk bersandiwara. Lelah berjalan tanpa arah.

Bukan arah ku berhenti, namun sendiri ku berhenti.

Sendiri. Seperti matahari muncul saat fajar. Meski bulan tak lagi sendiri ketika petang.

Mungkin bodoh, karna mereka tak akan bertemu.

Mungkin bodoh, hingga mereka bertemu, aku tetap berharap.

Karena kapanpun bulan meminta, matahari membagi sinar yang ia sanggup.

.

2 komentar:

Kfivepedia mengatakan...

RA : Ridwan Aji khan ??????
hobi nulis jga luu chan ???

Anonim mengatakan...

yoi! hahaha
cuma ngikutin mood aja.